Jumat, 16 Maret 2012

Manfaatkan Tanah dan Lahan








A.   Pendahuluan
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.

B.   Degradasi Lahan
Degradasi lahan berarti hilangnya fungsi lahan atau berubahnya kualitas dan manfaat dari suatu lahan. Jadi, kerusakan lahan tidak hanya menyangkut kerusakan pada tanah, tetapi juga sumber daya berupa organisme yang ada di atas tanah. Degradasi lahan dipengaruhi oleh faktor manusia dan faktor lingkungan. Degradasi lahan yang disebabkan oleh faktor manusia antara lain:
1.    Penebangan hutan secara terus menerus yang menyebabkan hutan menjadi gundul
2.    Kerusakan lahan oleh manusia sering didasari oleh kepentingan ekomoni belaka tanpa mementingkan kelestarian lingkungan
3.    Pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga membutuhkan lahan untuk permukiman maupun aktivitas pertanian.
4.    Aktivitas pertanian yang seringkali tidak cocok dengan kondisi lahan. Misalnya aktivitas pertanian yang dilakukan pada lahan dengan kemiringan lereng yang curam, jika pengelolaan lahannya tidak direncanakan dengan baik. Lahan yang curam rawan terhadap erosi, terlebih lagi jika turun hujan
5.    Sejumlah penduduk miskin atau tidak memiliki lahan, membuka lahan baru di daerah pegunungan. Akibatnya, tumbuhan dan hewan di dalamnya terancam serta tanahnya rawan terhadap erosi.
6.    Lahan – lahan bekas penambangan bahan galian seringkali dibiarkan begitu saja jika bahan galiannya telah habis sehingga lahan menjadi rusak.
7.    Reboisasi dan reklamasi yang gagal. Upaya reboisasi hutan yang telah ditebang dan reklamasi lubang/tanah terbuka bekas galian tambang sangat minim hasilnya karena prosesnya memerlukan waktu puluhan tahun dan dananya tidak mencukupi karena banyak disalahgunakan (dikorupsi).
8.    Lemahnya penegakan hukum. Sudah banyak peraturan perundangan yang telah dibuat berkenaan dengan pengelolaan lingkungan dan khususnya hutan, namun implementasinya di lapangan seakan-akan tidak tampak, karena memang faktanya apa yang dilakukan tidak sesuai dengan peraturan yang telah dibuat.
9.    Kesadaran masyarakat yang rendah. Kesadaran sebagian besar warga masyarakat yang rendah terhadap pentingnya pelestarian lingkungan/hutan merupakan satu hal yang menyebabkan ketidak­pedulian masyarakat atas degradasi lingkungan yang semakin intensif. Rendahnya kesadaran masyarakat ini disebabkan mereka tidak memiliki pengetahuan tentang lingkungan hidup yang memadai.
Selain dari faktor manusia, beberapa faktor alam yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan antara sebagai berikut.
a) Bencana alam seperti banjir, longsor, badai, gempa atau letusan gunung merapi.
b) Iklim, jenis tanah dan kemiringan lereng sangat memengaruhi laju kerusakan lahan.

C.   Cara Mengatasi Degradasi Lahan
Untuk mencegah degradasi lahan, diperlukan upaya yang dilakukan agar keberadaan lahan dapat terus dimanfaatkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Upaya–upaya yang dilakukan sebagai berikut.
a.        Lahan–lahan yang tidak cocok untuk pertanian sebaiknya dijadikan sebagai hutan, seperti lereng gunung yang curam atau daerah tanah berkapur yang mudah longsor.
b.        Lahan–lahan yang kering sebaiknya dibuat teras agar dapat mengurangi aliran di permukaan.
c.        Daerah yang memiliki curah hujan tinggi seperti Jawa Barat, lahan yang miring tidak hanya dibuat sangkedan, saluran pelepas air perlu dibuat memanjang lereng. Terjunan air perlu diperkuat bambu, batu dan rumput yang akarnya kuat.
d.        Hindari penyiangan yang bersih di antara tanaman keras. Jika tidak ada pupuk hijau penutup tanah, dapat pula dengan rumput yang tidak berbahaya bagi tanaman pokok. Keberadaan tanaman penutup tanah juga menentukan tingkat erosi.
e.        Melakukan reboisasi terhadap lahan yang sudah kritis
f.         Tidak membakar hutan pada musim kemarau. Selain dapat menyebabkan degradasi lahan, asap dari kebakaran tersebut juga menimbulkan polusi udara.
           
Upaya lain yang dapat digunakan untuk mengatasi degradasi lahan yaitu dengan cara remediasi dan bioremediasi.

  • Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah. Sebelum dilakukan remediasi hal yang perlu diketahui adalah:
  1. Jenis perusak atau pencemar (organik/anorganik), terdegredasi/ tidak, berbahaya  atau tidak.
  2. Berapa banyak zat perusak/pencemar yang telah merusak/ mencemari tanah tersebut.
  3. Perbandingan Karbon (C), Nitrogen (N), dan Fosfat (P)
  4. Jenis tanah
  5. Kondisi tanah (basa, kering)
  6. Telah berapa lama zat perusak terendapkan di lokasi tersebut.
Ada dua jenis remediasi tanah:
a)   In situ (on-site)
In situ adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
b)   Ex situ (off site)
Ex situ meliputi penggalian tanah  yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Dari daerah aman, tanah  tersebut dibersihkan dari zat pencemar, caranya:
§  Tanah tersebut disimpan di bak/tangki yang kedap
§  Kemudian pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut
§  Selanjutnya zat perusak/pencemar dipompakan keluar dari bak  yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

·         Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan perusakan atau pen­ce­maran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi  bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbondioksida dan air).
Empat teknik dasar yang biasanya digunakan dalam bioremediasi:
  1. Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrient, pengaturan kondisi redoks, optimasi PH, dan sebagainya.
  2. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus.
  3. Penerapan immobilized enzymes.
  4. Penggunaan tanaman (phyroremediation)
Proses bioremediasi harus memperhatikan: temperatur tanah, keter­sediaan air, nutrient (N, P, K), perbandingan C:N kurang dari 30:1 dan ketersediaan oksigen.

D.   Rangkuman
Degradasi lahan berarti hilangnya fungsi lahan atau berubahnya kualitas dan manfaat dari suatu lahan. Jadi, kerusakan lahan tidak hanya menyangkut kerusakan pada tanah, tetapi juga sumber daya berupa organisme yang ada di atas tanah. Degradasi lahan dipengaruhi oleh faktor manusia dan faktor lingkungan. Upaya yang dilakukan agar keberadaan lahan dapat terus dimanfaatkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan antara lain remediasi dan bioremediasi.

E.   Kasus/Permasalahan
Akibat dari pemanfaatan sumberdaya hutan yang tak terkendali adalah laju kerusakan hutan yang terjadi diperkirakan semakin merajalela dan mengkhawatirkan. Selain itu, akibat konversi kawasan hutan menyebabkan meluasnya lahan-lahan kritis.  Di lain pihak, pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis selama ini belum sepenuhnya berhasil dilaksanakan, masih banyak kendala yang dihadapi. Pengalaman membuktikan bahwa pemanfaatan sumberdaya tanah yang dilaksanakan pada masa lalu lebih mengutamakan kepada upaya mengejar perolehan devisa negara, sehingga dalam mengekploitasi sumberdaya alam kurang memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan dan kelestarian lingkungan hidup. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sumberdaya alam.
Bagaimana tindakan kita untuk mengatasi lahan kritis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar